"Nonya Xiao, bolehkah aku bertanya ranah anda sekarang berada di level mana?" tanya Komandan Fan sambil tersenyum tipis. Matanya menyorot tajam, memancarkan rasa ingin tahu dan kekaguman diselingi tatapan ketertarikan yang terlihat jelas ketika menatap wajah Leena dengan penuh perhatian.

Leena mendengus pelan, tatapannya dingin menusuk seolah ingin menembus kulitnya. "Komandan Fan, fokuslah pada kasus hilangnya penduduk. Itu jauh lebih penting daripada pertanyaanmu," jawabnya tegas, nada suaranya sarat peringatan.

Komandan Fan terdiam sejenak, lalu mencoba menyembunyikan kekakuannya dengan senyum canggung. "Ah, tentu... tentu. Sebenarnya kita baru saling mengenal, itu sebabnya aku banyak bertanya. Aku hanya ingin memahami lebih dalam tentang kalian, terutama karena kalian telah berjasa menyelamatkan desa Linxi," katanya sambil mengalihkan pandangannya seolah mencari reaksi.

Leena mengerutkan alisnya, jengah. Wajahnya memancarkan rasa jijik, dan tanpa menoleh lagi, ia membalikkan badan, melangkah menjauh menuju Lynx, menolak memberi kesempatan Fan menambahkan kata.

Komandan Fan justru tersenyum kecil, matanya mengikuti sosok Leena yang menjauh, kemudian menoleh ke arah Lynx dengan pandangan penuh ambisi. Dalam hati, ia bergumam, "Aku akan tunjukkan bahwa aku lebih pantas bersamamu daripada dia."

"Sayang, aku rasanya ingin menghajar pria ini. Bagaimana menurutmu?" Leena mengirimkan suara telepati ke Lynx, matanya melotot tajam ke arah Fan.

Lynx yang mendengarnya hanya tersenyum, lalu terkekeh kecil. "Kasihan sekali, ada yang mengidolakan, masa mau dihajar."

Mendengar jawaban Lynx membuat Leena makin kesal. Ia mencubit pinggang Lynx keras-keras sambil melotot.

Lynx pura-pura meringis dan mengaduh lewat telepati. "Aduh... ampun sayang, aku hanya bercanda. Orang seperti dia tidak perlu kita hiraukan. Tapi kalau dia berani kurang ajar padamu, aku tidak mungkin tinggal diam."

Leena melepaskan cubitannya sambil mendengus kesal. Meski banyak pria yang menyukainya, belum pernah ada yang bersikap sememalukan Komandan Fan. Baginya, sikap itu hanya menimbulkan rasa muak dan jijik.

"Mana Jelita?" tanya Leena ketika menyadari gadis itu tidak terlihat bersamanya.

Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang. "Leena, aku di sini. Bagaimana, apakah ada petunjuk?"

Leena menoleh dan mendapati Jelita berdiri tidak jauh darinya. Gadis itu kemudian mendekat, lalu berbisik dengan suara kesal. "Leena, apa Komandan Fan itu mengganggumu? Aku ingin sekali memberinya pelajaran seandainya Kepala Suku tidak melarang," keluhnya.

Leena menatapnya sekilas, lalu menjawab dengan nada menyindir. "Abaikan saja. Kalau orang yang seharusnya marah saja memilih cuek, buat apa kita repot-repot pusingin."

Jelita menutup mulutnya, menahan tawa kecil. Lynx yang berdiri dekat mereka pura-pura tidak mendengar percakapan itu.

Namun tiba-tiba Lynx merasakan sesuatu. Energi sakti dari kertas formasi yang berasa dari Desa Surya bereaksi, membuat wajahnya berubah serius. "Leena, sepertinya terjadi sesuatu di Desa Surya. Aku harus kembali. Apa kamu ikut?"

Leena menoleh ke arah Jelita, lalu menggeleng pelan. "Aku akan menyusul bersama Jelita. Berangkatlah lebih dahulu."

Lynx mengangguk paham. Seketika sosoknya menghilang dari hadapan mereka. Ia tahu, bersama Jelita mereka tidak bisa bergerak cepat, Lynx tidak mungkin merangkul Leena dan Jelita bersamaan, dan dengan adanya prajurit di sekitar, dia tidak bisa memperlihatkan kemampuannya membuat portal teleportasi.

Melihat Lynx menghilang, senyum licik perlahan terukir di bibir Jelita.

"Kita kembali sekarang ke Desa Surya," kata Leena tegas.

Komandan Fan yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka tampak kebingungan saat Lynx mendadak hilang dari pengawasannya. Ia segera mendekat. "Nyonya Xiao, kemana Tuan Xiao? Mengapa aku tidak melihatnya?"

Leena menatapnya dingin. "Komandan, kami harus kembali. Suamiku sudah berangkat lebih dahulu karena urusan penting," jawabnya tanpa memberi ruang Komandan Fan menanggapi. Ia langsung menarik tangan Jelita, merangkulnya, dan melesat meninggalkan Komandan Fan yang hanya bisa berdiri kesal dan frustasi.

"Kenapa Kepala Suku mendadak kembali?" tanya Jelita sambil menahan diri di pelukan Leena ketika mereka melesat menuju Desa Linxi. Dari sana mereka berniat menggunakan teleportasi untuk menuju Desa Surya agar tidak diketahui pihak lain.

"Aku tidak tahu, tapi sepertinya ada..." Leena terhenti. Raut wajahnya menegang ketika menyadari Jelita tiba-tiba tak sadarkan diri. Seandainya tidak dalam rangkulannya, gadis itu pasti sudah jatuh dari ketinggian.

"Jelita, apa yang terjadi?" Leena panik memanggil, menepuk-nepuk pipinya.

Jelita tiba-tiba membuka sedikit senyum tipis meski matanya tetap terpejam, membuat Leena bingung. Lalu secara mengejutkan, Jelita mengangkat tangannya. Dari telapak tangannya keluar serbuk berkilau seperti bintang dan langsung mengenai wajah Leena.

Leena yang tidak sempat mengantisipasi langsung terjatuh dalam keadaan tak sadarkan diri.

"Lynx, aku ingin melihat reaksimu saat kekasihmu berada di tanganku," ucap Jelita. Suaranya terdengar berbeda dengan suara biasanya, terdengar bergema aneh, seolah berasal dari kejauhan.

Jelita yang seharusnya belum memiliki kemampuan terbang kini melayang ringan di udara, menopang tubuh Leena yang pingsan dalam pelukannya.

Dengan tatapan dingin, Jelita menaburkan serbuk lain. Dalam sekejap, tubuhnya bersama Leena lenyap dari angkasa, meninggalkan udara kosong tanpa jejak sedikit pun.

Lynx tiba di Desa Surya dalam sekejap mata. Dengan kemampuannya, jarak dari tempat ia memeriksa kasus hilangnya penduduk bersama prajurit kerajaan menuju desa itu sama sekali bukan halangan. Namun ia tidak menyadari bahwa nyawa kekasihnya kini berada dalam bahaya.

"Tetua, apa terjadi sesuatu?" tanya Lynx begitu kakinya menginjak tanah desa. Tubuhnya sedikit menegang, energi spiritualnya segera menyebar menjelajahi setiap sudut untuk memastikan keadaan tetap aman.

Nenek Drona maju mewakili para tetua. Ia tersenyum hangat dan memberi hormat. "Kepala Suku, kami mendapat informasi penting dari Kepala Desa Linxi mengenai kemungkinan penyebab keluarga kita yang terbaring di dalam peti es keabadian mengalami nasib demikian. Karena itulah kami terpaksa memanggilmu. Semoga tidak mengganggu apa yang sedang Kepala Suku kerjakan."

Mendengar kabar itu, mata Lynx berbinar. "Nenek, katakanlah! Informasi apa yang kalian dapatkan? Jika memang ada cara untuk menyelamatkan mereka, tentu kita harus melakukannya," ucapnya penuh semangat, baginya tidak ada hal yang lebih penting saat ini selain keselamatan suku Surya. Dia akan melakukan apapun untuk memulihkan mereka yang sedang tertidur di peti es keabadian.

Nenek Drona lalu menjelaskan panjang lebar. Ia menceritakan hasil pembahasan antara dirinya dengan Lala dan kepala desa Linxi mengenai kecurigaan mereka terhadap mahluk bernama pemangsa Yin, makhluk parasit yang konon menjadi dalang penyebab kondisi penduduk surya kritis. Ia menyebutkan juga tentang lima wanita misterius yang terlihat di lokasi mahluk Pemangsa Yin berada, kemungkinan besar kesimpulan mereka bahwa kelima wanita itu adalah Mira dan para pengikutnya, serta nenek Drona menceritakan rencana Lala yang berani, yaitu memancing makhluk itu keluar dengan membuat penduduk seolah-olah mati, lalu menghidupkan mereka kembali setelah parasit Yin keluar.

Para tetua yang mendengarnya gelisah. Wajah mereka dipenuhi rasa khawatir, menyadari taruhan besar yang ada di balik rencana berbahaya tersebut.

Lynx juga merasakan hal yang sama. Namun ia segera menegakkan punggungnya, tatapannya tajam. "Dimana desa itu? Aku harus memeriksanya sendiri. Jika benar ini berkaitan dengan para penyihir, kita tidak bisa begitu saja melepaskan petunjuk ini," katanya penuh tekad.

Nenek Drona menatap Lynx dengan serius, suaranya bergetar menahan kekhawatiran. "Lokasinya hanya Kepala Desa Linxi yang mengetahuinya. Tapi sebelum itu, kuharap Kepala Suku bisa bicara dengan Lala. Kami khawatir mengenai rencananya."

Tetua Ayunga menambahkan dengan nada berat, "Memancing makhluk itu keluar dengan membuat seolah inangnya sudah mati tentu sangat berbahaya. Saat mereka dikeluarkan dari es keabadian, kondisi mereka yang sudah kritis bisa membahayakan nyawa mereka dan tidak lagi bisa diselamatkan."

Lynx mengangguk setuju, wajahnya menegang. "Kenapa kalian tidak langsung membicarakan dengan Lala?" tanyanya dengan nada protes.

Tetua Raka mengelus jenggotnya, menghela napas panjang sebelum menjawab. "Nenek Drona mengatakan setelah mereka membahas Pemangsa Yin, Lala langsung masuk ke mode serius berpikir. Jika sudah seperti itu, apapun yang kami lakukan percuma, tidak akan bisa merubah pikirannya."

Lynx menggelengkan kepala perlahan, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebiasaan yang selalu muncul saat ia resah. Dalam hati ia bergumam, "Lala... Lala... kamu ini kalau sudah punya ide, kadang bikin orang khawatir."

